demo-buruh-desak-mk-cabut-uu-cipta-kerja_20231002_210530

Buruh Ancam Mogok Kerja jika Gugatan Omnibus Law Ditolak MK

Jakarta – Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, memberikan peringatan keras kepada pemerintah dalam peringatan Hari Buruh 1 Mei 2024. Ia menyatakan bahwa buruh ancam mogok nasional jika gugatan omnibus law yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) tidak dikabulkan.

“Kami sudah bulat. Jika MK menolak gugatan kami, buruh seluruh Indonesia akan mogok nasional,” tegas Said Iqbal.

Menurut Said Iqbal, omnibus law telah merugikan buruh karena menghapus beberapa hak yang sebelumnya di lindungi oleh undang-undang. Ia menyebut pasal-pasal yang kontroversial seperti penghapusan upah minimum sektoral dan penetapan upah berdasarkan kesepakatan antara buruh dan pengusaha.

“Omnibus law ini adalah malapetaka bagi buruh. Kami tidak akan tinggal diam dan membiarkan pemerintah merampas hak-hak kami,” ujar Said Iqbal.

Ia menambahkan, buruh ancam mogok nasional akan dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia. Buruh akan berhenti bekerja dan menuntut pemerintah membatalkan omnibus law.

“Kami akan turun ke jalan dan memperjuangkan hak-hak kami. Pemerintah harus ingat, buruh adalah tulang punggung perekonomian Indonesia,” tegas Said Iqbal.

Pengamat perburuhan, Andi Gani, menilai ancaman mogok nasional oleh buruh cukup serius. Ia mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan tuntutan buruh dengan bijak untuk menghindari potensi konflik sosial.

“Pemerintah harus mendengarkan aspirasi buruh. Mogok nasional akan berdampak besar pada perekonomian dan stabilitas sosial,” kata Andi Gani.

Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2024 menjadi momentum bagi buruh untuk menyuarakan tuntutan mereka. Pemerintah di harapkan dapat menanggapi dengan bijak dan mencari solusi yang adil bagi semua pihak

Upah Buruh Indonesia Tertinggal Jauh dari Singapura dan Malaysia

Jakarta – Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa upah buruh di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Dalam sebuah pernyataan, Said Iqbal mengatakan, “Upah buruh Indonesia sangat rendah di bandingkan dengan negara-negara di ASEAN. Bahkan, kita masih tertinggal jauh di bawah Singapura dan Malaysia.”

Baca Juga : https://crequy.com/kapolres-metro-jakpus-himbau-buruh-tinggalkan-bundaran-hi/

Menurut data Organisasi Buruh Internasional (ILO), upah minimum bulanan di Indonesia pada tahun 2023 berkisar antara Rp1,8 juta hingga Rp2,6 juta, tergantung pada provinsi. Sementara itu, di Singapura, upah minimum bulanan mencapai sekitar Rp27 juta, sedangkan di Malaysia sekitar Rp20 juta.

Kesenjangan upah yang besar ini, menurut Said Iqbal, berdampak pada kesejahteraan buruh dan keluarganya. “Buruh Indonesia kesulitan memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya.

Ia pun mendesak pemerintah untuk menaikkan upah minimum secara signifikan agar bisa memenuhi kebutuhan dasar buruh dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi kesenjangan upah ini. Buruh Indonesia berhak mendapatkan upah yang layak dan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Said Iqbal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *